APGAR

Posted in Uncategorized on November 4, 2008 by amycyg77

PEMERIKSAAN FISIK

BAYI BARU LAHIR

Penilaian Awal

Dilakukan dalam 30 detik pertama

Bersamaan dengan melakukan tindakan awal untuk menjaga patensi jalan napas :

– Menjaga kehangatan bayi

– memposisikan bayi

– membersihkan jalan napas (hisap lendir)

Yang dinilai : 3 parameter à dasar untuk menentukan perlu / tidaknya tindakan resusitasi

PEMERIKSAAN MENIT 1 dan 5

NILAI APGAR

TANDA

0

1

2

Frekuensi jantung

Tidak ada

<100

>100

Usaha bernafas

Tidak ada

Lambat

Menangis kuat

Tonus otot

Lumpuh

Ektremitas flexi sedikit

Gerakan aktif

Refleks

Tak bereaksi

Gerakan sedikit

Reaksi melawan

Warna kulit

Biru/pucat seluruh tubuh

Tubuh kemerahan, kaki/tangan kebiruan

Tubuh kemerahan seluruh tubuh.

Keterangan:

Baik : nilai 7 – 10

Asfisia ringan/sedang :nilai 4 – 6

Asfiksia berat : nilai 0 – 3

Periksa adakah tanda-tanda sindroma gangguan nafas :

  1. Retraksi intercostal
  2. Nafas cuping hidung
  3. Merintih / grunting

Periksa tali pusat : 2 arteri & 1 vena

Pembersihan lewat hidung : cek patensi,refleksà sudah dilakukan

Masukkan sonde ke lambung, masukkan udara sedikit, dengarkan dng stetoskop di daerah lambung, suara (–) à atresia oesofagus

TIDAK RUTIN DILAKUKAN ! INDIKASI !

Sianosis tak hilang dng resusitasi adekuat penyakit jantung sianotik ?

Perhatikan gerakan pernafasan :

takipneu : kelainan di paru-paru

Iklan

cardiovaskular system disorder

Posted in Uncategorized on November 4, 2008 by amycyg77

Anatomy jantung

Aorta

Pericardium

Pengertian Gagal Jantung

Gagal ajntung, sering disebut gagal jantung kongestif, adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan O2 dan nutrisi.

Penyebab gagal jantung

  1. Kelainan otot jantung

Gagal jantung sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung, menyebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. Kondisi yang mendasari penyebab kelainan fungsi otot jantung mencakup; aterosklerosis koroner, hipertensi arterial, dan penyakit otot degenerstif atu inflamasi.

  1. Aterosklerosis koroner

Mengakibatkan disfungsi miokardium karena tergangguanya aliran darah ke otot jantung. Terjad hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat). Infark miokardium (kematian sel jantung) biasanya mendahului terjadinya gagal jantung.

  1. Hipertensi sistemik atau pulmonal (peningkatan afterload)

Meningkatkan beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung. Efek tersebut (hipertrofi miokard) dapat dianggap sebagai mekanisme kompensasi karena akan meningkatkan kontraktilitas jantung. Tetapi untuk alasan yang tidak jelas, hipertrofi jantung tadi tidak dapat berfungsi secara normal, dan akibatnya akan terjadi gagal jantung.

  1. Peradangan dan penyakit miokardium degenaratif

Berhubungan dengn gagal jantung, karena kondisi ini secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan kontraktilitas menurun.

  1. Penyakit jantung lain

Gagal jantung jantung dapat terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang sebenarnya tidak secara angsung mempengaruhi jantung. Mekanisme yang biasanya terjadi mencakup gangguan aliran darah melalui jantung (missal, stenosis katub semiluner), ketidakmampuan jantung mengisi darah (missal, tamponade pericardium, perikarditis konstriktif, atau stenosis katub AV), atau pengosongan jantung abnormal (missal, insufisiensi katub AV).

  1. Faktor sistemik

f.1 Meningkatnya laju metabolisme (mis, demam, tirotoksitosis)

f.2 Hipoksia dapat menurunkan suplai oksigen ke jantung.

f.3 anemia memerlukan penignkatan curah jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen sistemik.

f.4 Asidosis (respiratorik atau metabolic) dan abnormalitas elektrolit dapat menurunkan kontraktilitas jantung.

(Brunner & Suddarth, 2002)

Resiko gagal jantung

  1. gagal jantung kiri
  1. Dispneu

Terjadi akibat penimbunan cairan dalam alveoli yang mengganggu pertukaran gas.

  1. Ortopneu (kesulitan bernafas pada saat berbaring)
  2. Ortpneu pada malam hari ( Paroximal Nukturnal Dispneu/ PND)
  3. Batuk

Batuk yang berhubungan dengan gagal jantung ventrikel kiri bisa kering dan tidak produktif, tetapi yang sering adalah batuk basah, yaitu batuk yang menhasilkan sputum berbusa dalam jumlah banyak, yang kadang disertai bercak darah.

  1. Mudah lelah

Mudah lelah akibat curah jantung yang kurang yang menghambat jaringan dari sirkulasi normal dan oksigen serta menurunnya pembuangan sisa hasil katabolisme. Juga terjadi akibat meningkatnya energi yang digunakan untuk bernafas dan insomnia yang terjadi akibat distress pernafasan dan batuk.

  1. Kegelisahan dan kecemasan

Terjadi akibat gangguan oksigenasi jaringan, stress akibat kesakitan bernafas dan pengetahuan bahwa jantung tidak berfungsi dengan baik.

(Brunner & Suddarth, 2002)

  1. Gagal jantung kanan
  1. Peningkatan penimbunan darah dalam vena, edema pergelangan kaki dan tungkai.
  2. Distensi vena jugularis
  3. Hepatomegali dan splenomegali
  4. Penurunan aliran darah paru
  5. Penurunan oksigenasi darah
  6. Kelelahan
  7. Penurunan darah sistemik. (Brunner & Suddarth, 2002)

Mekanisme terjadinya gagal jantung sampai terjadinya dispneu

 

 

 

 

 

 

 

 

O2

CO2 Vena Pulmonalis

 

 

 

V. cava superior

 

 

 

aorta

 

 

 

O2

CO2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Organ/jaringan

Pu

l

mo

AD AS

 

 

VD VS

Keterangan gambar:

Gangguan aliran darah terjadi dimulai dari gagal ventrikel kiri yang tidak dapat memompa darah ke seluruh jaringan karena terjadi penyempitan pada aorta.. Kerusakan pada aorta disebabkan pengerasan arteri atau Aterosklerosis yaitu suatu keadaan pada arteri besar dan kecil yang ditandai oleh penimbunan endapan lemak, trombosit, makrofag, dan sel-sel darah putih lainnya di seluruh kedalaman tunika intima dan akhirnya ke tunika media. Sehingga dapat menyumbat aliran darah dari VS. Sehingga darah dari paru terkumpul di VS. Hal ini menyebabkan penumpukan darah di VS. Afterload akan timbul karena terjadi tekanan ventrikel yang harus dihasilkan untuk memompa darah melawan perbedaan tekanan yang ditimbulkan oleh tekana arteriole. Kerena VS tidak mapu mempompa darah yang dating dari paru, menyebabkan cairan terdorong ke jaringan paru. (kembali naik ke pulmo). Begitu juga paru, paru yang mengeluarkan darah O2 tidak sanggup menerima VS maka timbullah Dyspneu.

: Darah dari VS kembali lagi pulmo.

: Terjadi penyempitan pada aorta.

  1. Ctt: efek dispneu timbul apabila terjadi gagal jantung kiri (ventrikel kiri). (Brunner & Suddarth, 2002) & (Elizabeth J.C, 2000)

Pemeriksaan penunjang

  1. perangkat diagnostic
  1. EKG atau Ekokardiografi akan memperlihatkan penebalan miokardiom.
  2. EKG dapat memperlihatkan dilatasi abnormal ruang-ruang jantung dan kelinan kontrkatilitas.
  3. Idetifikasi radiologist adanya kongesti paru dan pembesaran ventrikel dapat mengindikasi gagal jantung.
  4. Identifikasi pembesaran ventrikel dengan magnetic resonance imaging (IMR) atau ultrasonografi dapat mengidentifikasikan adnaya gagal jantung.
  5. Pengukuran tekan diastolic-akhir ventrikel dengan sebuah katetee yang dimasukkan ke dalam arteri pulmonalis (mencerminkan tekanan VS) atau dalam vena cava (menerminkan tekanan VD) dapat mendignosis gagal jantung. Tekanan VS biasanya mencerminkan volume VS. (Elizabeth J.C, 2000)
  1. pemeriksaan fisik
  1. Auskultasi

Auskultasi berfungai mengetahui suara yang ada didalam paru. Dan untuk mengetahui adanya penumpukan cairan di dalam paru.

Asuhan Keperawatan

  1. buka jalan nafas (gunakan tekhnik Chin Lift atau Jaw Thrust bila perlu )
  2. Posisikan klien untuk memaksimalkan ventilasi
  3. Identifikasi Pasien, perlunya pemasangan alat jalan afas buatan.
  4. Pasangkan mayo bila perlu
  5. Lakukan FTD bila perlu
  6. Auskultasi suara nafas adanya suara tambahan
  7. Berikan pelembab udara
  8. Atur intake cairan untuk mengoptimalkan keseimbangan
  9. Monitor respirasi & status O2

IRK

  1. Al Baqoroh 172

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.”

  1. Al Baqoroh 57

“Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu “manna” dan “salwa”. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”

  1. An Nisa’ 160

“Maka disebabkan kelaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah.”

  1. Al Maaidah 88

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”

  1. Al Anfaal 69

“Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

  1. Yusus 37

“Yusuf berkata: Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian.”

  1. Al Mu’minun 51

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

  1. Al Insaan 9

“Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.”

DAFTAR PUSTAKA

Suddarth&Burnner, 2002, Keperawatan Medikal Bedah, EGC; Jakarta

Corwin J Elizabeth, 2000, Buku Saku Patofisiologi, EGC; Jakarta

bayi premature

Posted in Uncategorized on November 4, 2008 by amycyg77

Pengertian Bayi premature

Bayi Premature yaitu Bayi yang dilahirkan sebelum 37 minggu dari hari pertama menstruasi terakhir, dianggap mempunyai masa gestasi yang diperpendek. (Kosa M Sachrin)

Penyebab terjadinya bayi premature

A. Faktor Meternal : Toksomia, hipertensi, malnutrisi atau penyakit kronis, misalnya diabetes militus. Pada umumnya, kelahiran premature berkaitan dengan adanya kondisi dimana uterus tidak mampu untuk menahan fetus, misalnya pada pemisahan premature, pelepasan plasenta dan infark dari plasenta. (Kosa M Sachrin)

B. Faktor Fetal : Klainan kromosal (misalnya trisomi autosomal), fetus multi ganda, cidera radiasi, deformitas fetus makroskopik. (Kosa M Sachrin)

C. Fantor Ibu : Penyakit yang berhubungan lansung dengan kehamilan, misalnya perdarahan anterpartum, trauma fisik dan psikologi, diabetes militus, toksomia grafidarum dan nefritis akut.

D. Usia Ibu : Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia < 20 th, dan multi grafida yang jarak kelahirannya terlalu dekat.

E. Keadaan sosial dan ekonomi :Kedaan ini snagat berperan terhadap kejadian prematuritas. Kejadian tertinggi pada golongan sosial ekonomi rendah. Hal ini disebabkan oleh keadaan gizi dan pengawasan antenatal yang kurang.

F. Faktor Janin : Hidranion, kehamilan ganda dan kelainan kromosom.

I. faktor lingkungan : Tempat tinggal didataran tinggi, radiasi dan zat-zat beracun.

(Sitohang, 2004)

Ciri-ciri bayi premaute

Proporsi umum

a. Bayi preterm mempunyai kepala yang besar dibandingkan dengan proporsi dari ukuran badannya.

b. Toraks secara relative kecil sementara abdomen secara relative besar dan anggota gerak kecil dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya.

c. Telinga tipis dan lembek

d. Tangisannya lemah

e. Tali pusat berwarna kuning kehijauan

f. Otot lemah dan aktivitas fisik sedikit (belum ada garis tangan)

Aktivitas

  1. Lebih rendah umur gestasi bayi, maka semakin kurang aktif anak tersebut.

Pengendalian suhu

  1. Bayi preterm cenderung untuk memiliki suhu tubh yang subnormal. Hal ini disebabkan oleh produksi panas yang buruk dan peningkatan kehilangan panas.

System Pernafasan

  1. lebih pendek masa gestasi, maka semakin kurang perkembangan paru-paru pada bayi dengan berat 900 gram alveoli cenderung kecil dengan adanya sedikit pembuluh darah yang mengelilingi stroma selular.
  2. Otot pernafasan bayi lemah dan pusat pernafasan kurang berkembang.
  3. Kurangnya Lipoprotein paru-paru, yaitu sutu surfaktan yang dapat mengurangi tegangan permukaan pada paru-paru.
  4. Ritme dan dalamnya pernafasan cenderung tidak teratur, sering kali ditemukan apnea, dalam keadaan ini timbul sianosis.

System sirkulasi

  1. jantung secara relati kecil saat lahir, pada beberapa bayi preterm kerjanya lambat dan lemah.
  2. Terjadi ekstra systole dan bising yang dapat didengar pada atau segera setelah lahir. Hal ini hilang, ketika aperture jantung fetus menutup secara berangsur-angsur.
  3. Vena di bawah kulit terlihat

System penceranaan

  1. semakin rendah umur gestasi, maka semakin lemah reflek menghisap dan menelan, bayi yang paling kecil tidak mampu untuk minum secara efektif.
  2. Lambung dari seorang bayi 900 gram memperlihatkan adanya sedikit lipatan mukosa, glandula sekretoris, demikian juga otot kurang berkembang.
  3. Hepar secara relative besar, tetapi kurang berkembang terutama pada bayi yang kecil.

Sistem urinarius

  1. pada saat lahir, fungsi ginjal perlu menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan.
  2. Fungsi ginjal kurang efisien dengan adanya angka filtrasi glomerolus yang menurun, klirens urea dan bahan terlarut rendah. Hal ini menyebabkan konsentrasi urin menjadi sedikit.

System persyarafan

  1. perkembangan susunan syaraf sebagian besar tergantung pada drajat maturitas.
  2. Pusat pengendali fungsi vital, misalnya pernafasan, suhu tubuh dan pusat refleks kurang berkembang.

System genital

  1. pada wanita, labia minora tidak ditutupi oleh labia mayora hingga aterm.
  2. Pada laki-laki, testis terdapat dalam abdomen, kanalis inguinalis atau skrotum.

Pemeriksaan bayi premature

  1. Rontgen dada, untuk melihat kematangan paru-paru.
  2. Analisa gas
  3. Kadar gula darah
  4. Kadar kalsium darah
  5. Kadar bilirubin.

Pencegahan agar tidak terjadi bayi premature

a. Tirah baring

b. Obat-obat khusus untuk mengurangi kontraksi rahim

c. Suntikan steroid untuk pematangan paru janin

d. Pemeriksaan klinik

e. Tidak beraktifitas berlebih

f. Menjaga emosi

g. ANC memantau perkembangan ibu dan bayi

Perawatan Bayi Premature

Aspek keperawatan berikut ini perlu dipertimbangkan.

  1. Penanganan
  2. Pemeliharaan suhu tubuh
  3. Incubator
  4. Pencegahan terhadap infeksi
  5. Pemberian O2
  6. Memandikan
  7. Memberi makan bayi.

Nutrisi yang diberikan

Pada bayi yang lahir premature tidak boleh terlalu banyak di beri ASI. Sekitar 10-30 Cc/Kg/BB/hari. Karena masih mengalami gangguan pada system penyerapan.

Klasifikasi asupan nutrisi pada bayi premature berdasarkan berat badan

a. Berat badan bayi >1800 gram (>34 minggu)

Langsung dapat disusui, bila tidak cukup ASI donor 8-10 kali/hari

b. Berat badan bayi 1500-1800 gram (32-34 minggu)

Di berikan ASI dengan sendok /cangkir 10-12 kali sehari, karena pada keadaan ini reflek hisap bayi belum baik, sedangkan reflek menelan sudah ada.

c. Berat badan bayi 1250-1500 gram (30-31 minggu)

Di berikan ASI perah melalui pipa orogastnik 12 kali sehari, karena reflek hisap dan menelan bayi belum ada.

Komplikasi pada bayi baru lahir

  1. system termoregulasi immature
  2. resiko tinggi integritas kulit.
  3. Resiko terjadinya Infeksi.
  4. Intoleransi aktifitas
  5. Gangguan mata, nafas, saluran cerna, pus berwarna kuning, pembuluh darah tidak menutup
  6. Hyperglikemia
  7. Hipoglikemia
  8. Jaundice
  9. Intoleransi system pencernaan
  10. System syaraf pusat immature

Asuhan keperawatan pada bayi premature

  1. posisikan untuk pertukaran udara yang optimal.
    1. tempatkan pada posisis telungkup bila mungkin.
    2. Tempatkan pada posisi telentang dengan leher sedikit ekstensi dan hidung menghadap kea tap dalam posisi mengendus untuk mencegah adanya penyempitan jalan napas.
  2. tempatkan bayi di dalam incubator, penghangat radian atau pakaian hangat dalam kranjang terbuka untuk mempertahankan suhu tubuh stabil.
  3. pantau suhu aksila 1 sampai 4 jam.
  4. periksa suhu bayi dengan ambeyer.
  5. cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan intervensi
  6. menjaga agar alat-alat tetap steril.

IRK

    1. QS Al Mu’minuun 12 – 14

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (berasal) dari tanah.” (12)

“Kemudian kami jadikan sari pati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).” (13)

“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kai jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang ( berbentuk ) lain. Maka maha sucilah ALLAH, pemcipta yang paling baik.”(14)

    1. QS Al Imron 6 & 36

“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendakiNya. Tak ada Tuhan melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (6)

“Maka tatkala istri Imron melahirkan anaknya, di pun berkata ;”Ya Tuhanku, sesungguhnnya aku melahirkannya seorang anak perempuan, dan Allah lebih mengetahui apa yang dilairkannya itu ; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Mariam dan aku melindungkannya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari pada syeitan yang terkutuk” (36)

    1. QS Hud 69-71

“ Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang pada ibrahim dengan membawa kabar gembira, ereka mengucapkan : ”Selamat.” Ibrahim menjawab : “maka tidak lama kemudian ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.” (69)

“ Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu brerkata : “Jangan kamu takut, Sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang dutus kepada kaum Luth.” (70)

“ Dan istrinya berdiri (disampingya) lalu dia tersenyum, maka kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan sesudah Ishak (lahir pula) Ya’qub.” (71)

    1. QS An Nahl 59

“ Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukan akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (59)

Schizophrenia

Posted in Uncategorized on November 4, 2008 by amycyg77

Background
Schizophrenia is the most common and disabling of the psychotic disorders.
Schizophrenia occurs twice as often in people who are unmarried and divorced people as in those who are married or widowed.
People with schizophrenia are more likely to be members of lower socioeconomic groups

Continum of neurobiological responses
Etiology of Schizophrenia
A. Predisposition factors
The genetic or hereditary

Biochemical and Neurostructural Theory
This therory suggested the dopamine hypothesis:
An excessive amount of the neurotramsmitter dopamine allows nerve impulses to bombard the mesolimbic pathway, the part of the brain normally involved in arousal and motivation. It causes the development of hallucinations and delusions, symptoms of schizophrenia .
Organic or Psychophysiologic Theory
These theories stated a functional deficit occurring in the brain caused by stressors such as viral infection, toxins, trauma, or abnormal substances and also a metabolic disorder
Environmental or Cultural Theory
This theory state that the person who develops schizophrenia has a faulty reaction to the environment, being unable to respond selectively to numerous social stimuli, come from low socioeconomic areas or single-parent homes.
Perinatal Theory
This suggested that risk of schizophrenia exists if:
The developing fetus or newborn is deprived of oxygen during pregnancy or if the mother suffers from malnutrition or starvation during the first trimester of pregnancy.
Any impaired events during fetal life at critical points in brain development, generally the 34th or 35th week of gestation.
The incidence of trauma and injury during the second trimester and birth
Psychological or Experiential Theory
Individuals with schizophrenia experience environmental stress when family members and acquaintances respond negatively to the individual’s emotional needs.
It causes poor mother–child relationships, deeply disturbed family interpersonal relationships, impaired sexual identity and body image, rigid concept of reality, and repeated exposure to double-bind situations
Vitamin Deficiency Theory.
The vitamin deficiency theory suggests that persons who are deficient in vitamin B, namely B1, B6, and B12, as well as in vitamin C, may become schizophrenic as a result of a severe vitamin deficiency.
Clinical Symptoms and Diagnostic Characteristics
Eugene Bleuler introduced the term schizophrenia and cited symptoms referred to as Bleuler’s 4 A’s:
Affective disturbance refers to the person’s inability to show appropriate emotional responses.
Autistic thinking is a thought process in which the individual is unable to relate to others or to the environment.
Ambivalence refers to contradictory or opposing emotions, attitudes, ideas, or desires for the same person, thing, or situation.
Looseness of Association is the inability to think logically. Ideas expressed have little, if any, connection and shift from one subject to another.

Clinical Symptoms :POSITIVE SYMPTOMS
Excess or distortion of normal functions
Delusions (persecutory or grandiose)
Conceptual disorganization
Hallucinations (visual, auditory, or other sensory mode)
Excitement or agitation
Hostility or aggressive behavior
Suspiciousness, ideas of reference
Pressurized speech
Bizarre dress or behavior
Possible suicidal tendencies

NEGATIVE SYMPTOMS
Diminution or loss of normal functions
Anergia (lack of energy)
Anhedonia (loss of pleasure or interest)
Emotional withdrawal
Poor eye contact (avoidant)
Blunted affect or affective flattening
Avolition (passive, apathetic, social withdrawal)
Difficulty in abstract thinking
Alogia (lack of spontaneity and flow of conversation)
Dysfunctional relationship with others

DISORGANIZED SYMPTOMS
Cognitive defects/confusion
Incoherent speech
Disorganized speech
Repetitive rhythmic gestures (such as walking in circles or pacing)
Attention deficits

Type I schizophrenia
The onset of positive symptoms is generally acute.
Type I symptoms generally respond to typical neuroleptic medication.
Theorists believe that an increased number of dopamine receptors in the brain, normal brain structure, and the absence of intellectual deficits contribute to a better prognosis than for those identified with type II schizophrenia.
Type II schizophrenia
It is characterized by a slow onset of negative symptoms caused by viral infections and abnormalities in cholecystokinin.
Intellectual decay occurs.
Enlarged ventricles are present.
Response to typical neuroleptic medication is minimal. However, negative symptoms generally respond to atypical antipsychotic medication

Diagnostic Characteristics
Evidence of two or more of the following:
Delusions
Hallucinations
Disorganized speech
Grossly disorganized or catatonic behavior
Negative symptoms
Above symptoms present for a major portion of the time during a 1-month period
Cont…
Significant impairment in work or interpersonal relations, or self-care below the level of previous function
Demonstration of problems continuously for at least a 6-month interval
Symptoms unrelated to schizoaffective disorder and mood disorder with psychotic symptoms and not the result of a substance-related disorder or medical condition

Classification of Subtypes of Schizophrenia
Other types of psychotic

It is the diagnosis used to describe the presence of prominent hallucinations or delusions determined as due to the direct physiologic effects of a specific medical condition.
For example:
Olfactory hallucinations may be experienced in the presence of temporal lobe epilepsy.
A right parietal brain lesion may cause an individual to develop delusions.
Assessment
Coping mechanism
Behaviours in a schizophrenic client
Nursing diagnosis
Disturbed thought processes,
Disturbed sensory perception,
Low self esteem
Social isolation
Risk for violence : self-directed or other directed
Impaired social interaction
Impaired verbal communication,
Ineffective individual coping
Self care deficit
Risk for Suicide,
How to manage : DELUSION
Types of Delusions
Delusion of reference or persecution
Delusion of alien control
Nihilistic delusion
Paranoid delusion
Delusion of grandeur
Somatic delusion
Strategies for working with patients with delusion
Establishing a trusting, interpersonal relationship
Place the delusion in atime frame and identify triggers
Assess the intensity, frequency, and duration of the delusion
Identify the emotional component of the delusion
Observe for evidence of concrete thinking

Cont……
Observe speech for symptoms of thought disorder
Observe for the ability to accurately use cause and effect reasoning
Distinguis between the description of the experience and the facts of the situation.
Carefully question the fact as they are presented and their meaning
Discuss consequences of delusion when the person is ready
Promote distraction as way to stop focusing on the delusion

Types of Hallucinations
Auditory hallucination
Visual hallucination
Olfactory hallucination.
Gustatory (taste) hallucination
Tactile hallucination
Level of intensity of hallucination
Stage 1 : Comforting
Moderate level of anxiety
Hallucination is generally pleasant
Stage 2 : Condemning
Severe level of anxiety
Hallusination generally become repulsive
Stage 3 : Controlling
Severe level of anxiety
Sensory experiences become omnipotent
Stage 4 : Conquering
Panic level of anxiety
Generally becomes elaborate and interwoven with delusion
Strategies for working with patients with halucination
Establising a trusting, interpersonal relationship
Assess for symptoms of hallucination including duration, intensity and frequency.
Focus on the symptom and ask the patient to describe what is happening
Monitor for command hallucinations that may precipitate aggressive or violent behavior.
Identify whether drugs or alcohol have been used
If asked, point out simply that you are not experiencing the same stimuli

Cont….
Suggest and reinforce the use of interpersonal relationship as symptom management technique
Help the patient describe and compare current and past hallucination
Help the patient identify needs that may be reflected in the content of the hallucination.
Determine the impact of the patient’s symptoms on activities of daily living.
Administer prescribed medication as ordered.

References
Townsend, M (2005), Essentials of psychiatric mental health nursing, 3rd ed, FA Davis Philadhelphia, pp 271-293
Stuart, GW & Laraia, MT(2005), Principles and practice of psychiatric nursing, 8th ed, Mosby, Philadelphia, pp 386-421

Hello world!

Posted in Uncategorized on November 2, 2008 by amycyg77

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!